Menyusuri Jejak Loji Freemasonry di Kota Malang
PERAWI, Malang — Sebanyak 35 orang berjalan santai menyusuri kawasan sekitar Alun-alun Malang, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur pada Minggu, 2 November 2025.
Mereka berasal dari berbagai tempat dalam wilayah eks karesidenan Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) yang tergabung dalam komunitas History Fun Walk. Berjalan bersama memandangi tiap sudut bangunan tua, perlahan-lahan tibalah mereka di depan bangunan besar putih kolonial Belanda yang berada di Jalan Aries Munandar 52, Kelurahan Kiduldalem, Klojen.
Fasad bangunan dua lantai tersebut bergaya arsitektur art deco—umumnya memiliki ciri khas berupa bentuk geometris yang berani, garis tegas, dan ornamen mewah. Pada lantai dua terdapat balkon kecil yang menghadap ke jalan. Pada bagian dinding jendela lantai satu tertera tulisan Pop (Piece of Peace) Mason 52, nama kafe yang menyediakan 77 varian teh dari sejumlah negara.
Kafe Pop Mason 52 sejatinya bukan kafe sembarangan karena ia menjadi jejak Freemasonry. Organisasi ini pertama kali berdiri di Inggris pada 1717 dan Freemasonry di Kota Malang resmi beroperasi sejak 1 April 1914, bersamaan dengan berdirinya Kota Malang. Jadi, jelaslah, bangunan Pop Mason 52 berusia 111 tahun.
Baca juga: Pentingkah Perlindungan bagi Perempuan Aktivis Perdamaian?
Menurut Hanny Ayodya Mamola, fasilitator History Fun Walk Malang, kisah Freemasonry memang memikat untuk ditelusuri, bukan karena keberadaannya yang kontroversial, melainkan ia menjadi organisasi persaudaraan tertua di dunia yang berfokus pada pengembangan diri dan kegiatan filantropi.
Masyarakat Kota Malang umumnya mengetahui The Shalimar Boutique Hotel (Hotel Shalimar) di Jalan Cerme 16, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, sebagai lodge atau loji (rumah besar) Freemason. Padahal Freemason Malang beberapa kali berpindah kantor.
Semula mereka menyewa bangunan yang kini dikenal dengan nama Toko Riang di Kajoetangan Straat (Jalan Kayutangan, kini Jalan Basuki Rahmat), dekat bekas Roxy Theater alias Bioskop Merdeka, dalam kawasan Cagar Budaya Kayutangan atau Kayutangan Heritage. Namun, bangunan Bioskop Merdeka sudah dibongkar habis dan menyisakan secuil tembok di seberang kantor GraPARI Telkomsel.
Dari Kayutangan, kantor Freemason Malang pindah ke Jalan Talun, Kelurahan Kauman, Klojen. “Yang di sini (Jalan Talun) belum diketahui pasti di mana tempatnya,” kata Hanny alias Han.
Baca juga: Kafe Pustaka, Kafe Literasi Berkonsep Mberot Kebudayaan

Lalu, ujar Hanny, pada sekitar 1913 Freemasonry Malang membeli sebidang tanah di Kerkstraat (Jalan Gereja, kini Jalan Aries Munandar), Klojen. Di atas tanah ini dibangun tempat perkumpulan mereka yang kini jadi Pop Mason 52. Dulu, lantai pertama Pop Mason berfungsi sebagai perpustakaan. Lantai dua dipakai untuk berkumpul dan beracara.
Perpustakaan Freemasonry Malang mempunyai 4.000 buku. Yang menarik, tidak seperti kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif di masa itu, perkumpulan Freemasonry justru membebaskan perpustakaannya dikunjungi oleh siapa pun, termasuk kaum bumiputera alias pribumi.
“Dari sana (Jalan Aries Munandar), pada 1933 mereka berpindah ke Jalan Cerme, yang sekarang jadi Hotel Shalimar. Jadi, yang di Pop Mason 52 bertahan 19 tahun,” ujar Han.
Baca juga: Belajar Pancasila dan Kewarganegaraan dari Film Jalan Raya Pos
Han mengatakan, Freemasonry Malang memang berandil cukup besar dalam perkembangan Kota Malang. Pada masanya, ujar Han, mereka membangun beberapa lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Tiga lembaga pendidikan ini di antaranya sekarang jadi SMPN 1 Kota Malang di Jalan Lawu, Kelurahan Oro-oro Dowo, Klojen, serta Sekolah Dasar Katolik (SDK) dan Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Kolese Santo Yusup (Kosayu) di Jalan dr Soetomo, Kelurahan Klojen, masih di kecamatan yang sama.
Ada juga juga sekolah Montessori (sekolah yang berorientasi pada pembentukan karakter dan kemandirian siswa menjelang pendidikan dasar atau sekolah yang sederajat dengan sekolah pendidikan anak usia dini/PAUD) yang berada di dekat Alun-alun Malang, Jalan KH Wachid Hasyim, Kelurahan Kauman, Klojen, yang sekarang jadi TK Katolik Santa Maria I. berorientasi pada pembentukan karakter dan kemandirian siswa menjelang pendidikan dasar.
Baca juga: 18 Tahun Aksi Kamisan di Depan Istana Kepresidenan
Menurut Han, terlepas dari teori konspirasi, visi dan misi Freemasonry sebenarnya cukup bagus. Mereka ingin memajukan ras semua bangsa sehingga terlihat mempunyai watak humanis. Selain itu, Freemasonry sangat selektif menerima anggota atau Freemason. Freemason terpilih setidaknya harus mempunyai jabatan dan berdampak besar pada masyarakat.
“Freemasonry tidak pandang background (latar belakang) agama, suku atau lainnya, kecuali calon anggotanya sudah punya nama dan pengaruh,” kata Han.
Salah satu tokoh penting yang menjadi anggota Freemasonry (Freemason) Malang adalah Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, seorang pengusaha perkebunan di Banduarjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, yang menjadi mempelopori merangkap pemegang saham terbesar Lavalette Kliniek. Klinik ini didirikan oleh Yayasan Stichting Malangsche Ziekenverpleging—yayasan sosial yang berdiri pada 1903—dan beroperasi sejak pada 9 Desember 1918 dengan nama awal Malangsche Ziekenverpleging dan sekarang jadi RSU Lavalette yang beralamat di Jalan WR Supratman, Kelurahan Rampal Celaket, Klojen.
Baca juga: Di Kota Malang Terdapat Kios Penjual Ribuan Kaset Pita Bekas
Selain Lavalette, ada juga tokoh Indonesia yang jadi anggota Freemasonry (Freemason) di kota lain. Sebagai contoh, pada 1935, anggota Budi Utomo (organisasi gerakan pemuda yang berdiri pada 20 Mei 1908) juga menjadi anggota Freemasonry
Kemudian ada Pakualam V, Pakualam VI, dan Pakualam VII, serta pelukis masyhur Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811-1880) dan Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kepala Polri pertama (1945-1959).

Jumlah Anggota Kian Banyak
Keberadaan Freemason pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda cukup banyak dan terus bertambah. Di Kota Malang, misalnya, Freemason terpaksa memindahkan pusat perkumpulannya ke lokasi lain yang lebih luas agar seluruh anggota bisa berkumpul.
Pada 1933, loji Freemason dipindahkan dari Jalan Aries Munandar ke tempat yang kini dikenal sebagai Hotel Shalimar. Sebelumnya, Hotel Shalimar adalah gedung Macconieke Logde. Gedung ini jadi kantor RRI Malang sejak 1964. Lalu, pada 1993, ganti nama jadi Malang Inn kepunyaan PT Cakra Nilam Sari dan pada 1995 berubah jadi Hotel Graha Cakra, serta ganti nama jadi Hotel Shalimar sejak 2015.
Baca juga: Ratna Indraswari Ibrahim Melawan Perusakan Lingkungan Lewat Sastra
“Anggotanya sudah terlalu banyak dan mereka membutuhkan tempat yang lebih luas, maka mereka pindah ke Jalan Cerme, tempat Hotel Shalimar berada sekarang,” kata Han.
Setelah pindah, loji di Jalan Aries Munandar berubah fungsi. Tempat itu pada 1939 jadi kantor Partai NBS (Nationaal-Socialistische Beweging) pada 1939. Partai dari Belanda yang berdiri pada 1931 ini berideologi fasisme Nazi Jerman.
Beberapa anggota Freemason Malang bergabung dalam Partai NBS. Namun, karena ideologinya dianggap tidak sejalan dengan visi dan misi Freemason, beberapa anggota diminta sukarela keluar dari Freemason meski faktanya kemudian kantor NBS di Jalan Aries Munandar hanya bertahan setahun.
Masa kejayaan Freemason di Indonesia meredup pada awal 1960-an. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 yang secara spesifik membubarkan dan melarang Freemason bersama enam perkumpulan lain, yakni Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Rosi Crucians (AMORC) dan Baha’i.
Baca juga: Saat Mereka Mengenang Sastrawan Pramoedya Ananta Toer
Freemason dan seluruh perkumpulan itu ditutup karena dianggap bertentangan dengan kepribadian dan ideologi nasional Indonesia, serta mempunyai citra bagian dari kolonialisme.
Keputusan Presiden Soekarno itu dianulir oleh Presiden KH Abdurrachman Wahid melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 2000. Meski demikian, hingga sekarang tiada loji Freemason yang beroperasi terbuka. Diduga, Freemason sudah tutup permanen akibat stigma dan persepsi negatif yang sudah mengakar kuat di masyarakat tentang keberadaan Freemason.
Penulis:
Wilda Fizriyani (Anggota AJI Malang dan Pengajar di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar)
COPYRIGHT © PERAWI.CO 2025
