|

Cara Jawab Pertanyaan Kapan Nikah dari Dosen Komunikasi UMM

Winda Hardyanti. @ Humas UMM

PERAWI.CO, Malang — Lebaran seharusnya jadi momen berkumpul yang hangat dan membahagiakan bersama keluarga. Namun, sebagian orang justru merasa tertekan dan terganggu karena mendapat pertanyaan sensitif yang bersifat sangat pribadi.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (Fisip UMM) Winda Hardyanti menjelaskan, tradisi lebaran masyarakat Indonesia identik dengan pelbagai pertanyaan sensitif bagi sebagian orang: kapan lulus, kerja di mana, besaran gaji, tempat tinggal, jumlah anak, dan kapan menikah.

“Pertanyaan kapan nikah yang paling sering ditanyakan saat berlebaran. Tentu pertanyaan ini sensitif terutama bagi mereka yang masih jomblo, apalagi jika pertanyaan ini berulang disampaikan. Maunya senang-senang saat lebaran, malah jadi tertekan,” kata Winda, Rabu, 2 April 2025. 

Baca juga: Puluhan Pelajar SMPN Kota Malang Sengaja Melukai Diri Sendiri

Menurut Winda, respons yang tepat saat menghadapi situasi itu adalah melakukan komunikasi asertif, yang memungkinkan seseorang untuk dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara jujur tanpa melukai orang lain.

Secara teoritis, kata Winda, komunikasi asertif dapat dilakukan melalui dua cara, yakni asertif langsung dan tak langsung. Asertif langsung adalah berkomunikasi tegas tetapi tetap sopan. Sebagai contoh, “Saya lebih nyaman berbicara mengenai topik lain, tapi makasih ya sudah tanya.”

Jawaban bisa memakai strategi asertif tak langsung, dengan cara mengalihkan pembicaraan. Bisa juga memberi respons candaan terutama jika penanya (komunikator) dan orang yang ditanya (komunikan) punya kedekatan pribadi.

Baca juga: Psikolog Klinis Jelaskan Cara Menolong Remaja Pelaku Self-Harm

Tanggapan yang santai dan bila perlu cukup direspons dengan tertawa sebenarnya sudah cukup menyudahi pertanyaan lanjutan lantaran terkadang orang-orang yang menanyakan pertanyaan sensitif tersebut sebenarnya tidak membutuhkan jawaban, melainkan cuma basa-basi untuk membangun hubungan sosial.

Winda menukil politeness theory, teori yang mempelajari bagaimana orang berkomunikasi dengan sopan dan menghormati (teori kesopanan).

Dalam teori ini ada istilah face-saving (penyelamatan wajah), sebuah strategi untuk menjaga harga diri dan martabat sosial dalam berkomunikasi yang dapat membantu meningkatkan keharmonisan dan mengurangi konflik dalam percakapan sehingga hubungan pertemanan maupun kekerabatan tetap terjaga dengan baik.

Ketika ada yang menanyakan hal sensitif, seseorang bisa menghadapinya dengan strategi face-saving demi melindungi diri sendiri dalam menghindari jawaban yang terbuka, dengan cara mencoba mengalihkan tema pembicaraan dan bisa juga pakai opsi terakhir: minta didoakan saja.

“Dalam teori politeness diartikan sebagai strategi mitigasi sehingga bisa meredam amarah dengan jawaban yang netral seperti, ‘masih proses’, ‘masih mencari’, dan ‘doakan saja ya’. Ini respons yang lebih aman bagi kelanggengan relasi sosial,” kata Winda.

Baca juga: Sad Beige Mom, Orang Tua Jangan Memaksakan Kehendak kepada Anak

Kata Winda, pertanyaan umum kapan menikah paling ditanyakan kepada generasi Z. Selain menggunakan teori kesopanan, pertanyaan “kapan nikah” menurut ilmu komunikasi bisa dijawab pakai teori pengurangan ketidakpastian. Seorang penanya pernikahan sebenarnya hanya ingin mengurangi ketidakpastian yang dirasakannya. Penanya merasa ingin memastikan bahwa kehidupan orang yang ditanya sesuai harapannya.

“Maka, untuk mengatasi pertanyaan tersebut kita bisa menggunakan strategi pasif atau menjawab dengan singkat tanpa membuka diskusi lebih lanjut,” ujar Winda, dosen yang menekuni bidang komunikasi interpersonal.

Winda memberikan tips agar seseorang tidak merasa terbebani atau tersinggung saat mendapat pertanyaan sensitif tersebut.

Meningkatkan kesadaran diri dengan mengingat bahwa tidak semua hal harus diceritakan kepada orang lain karena setiap orang punya batasan masing-masing. Seseorang harus bisa menentukan batasan keterbukaan dirinya saat berkomunikasi dengan orang lain, sekaligus memiliki kuasa dan kemampuan mengelola diri sendiri.

Baca juga: Lima Manfaat Dongeng bagi Pembentukan Karakter Anak

Dalam konteks itu, seseorang atau individu harus dapat membangun mental framing positif. Gampangnya, ya bersikap dan berpikir positif saja, bahwa mereka bertanya hal-hal bersifat sangat pribadi dan sensitif hanya untuk interaksi sosial, untuk membangun kedekatan.

“Kalau mental framing kita negatif, maka akan membuat kita malas untuk berinteraksi, baperan atau gampang tersinggung. Jangan sampai hanya karena takut ditanyai pertanyaan-pertanyaan sensitif, lalu hal itu menghalangi diri kita untuk bersilaturahmi ataupun berinteraksi dengan orang lain,” kata Winda.

COPYRIGHT © PERAWI.CO 2025

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *